Elegi Untuk Muhammad Assagi Pranez

Jam telah menunjuk hampir jam sebelas malam,akan tetapi mata masih belum mau untuk dipejamkan,dan pada akhirnya kesunyian kembali mengusik kerinduanku kepada sosok bayi mungil yang gagah,yang terbaring lemas tak berdaya di ruang NICU sebuah rumah sakit ternama di daerah BSD tangerang selatan,setelah sejenak teralihkan dengan banyaknya teman-teman yang datang memberi semangat dan simpati,dari pagi hingga malam tadi,bagaimana cerita dan semangat mereka membuatku sejenak melupakan bayangannya,kini hening kembali menuntunku kepadanya kepada sosok yang terbaring lemah tak berdaya disudut ruang NICU.

Entah kenapa sulit sekali melepaskan bayangan itu,bayangan itu selalu tergambar jelas dalam benakku,bagaimana mata yang terpejam diiringi nafas dan bunyi peralatan HFO dan peralatan lainnya membuatku selalu berandai-andai…andai dia…pasti…..

Ahh… perandai-andaian itu hampir saja menjerumuskanku pada pengingkaranku kepada takdir Allah,sebagai seorang ayah yang merindukan sosok lelaki yang kelak akan menjaga kedua kakak wanitanya serta ibundanya,tentu kelahiran Assagi menjadi jawaban atas semua keinginan dan lantunan doaku selama ini.

Masih terngiang jelas bagaimana suara tangisan pertamanya membuat jantungku berdegup kencang,walaupun aku sudah pernah mengalami kejadian ini dua kali sebelumnya,akan tetapi tangisan ini tetap membawa kekhawatiran yang sangat amat.

Bagaimana tidak dede Assagi lahir hanya dalam 31 minggu  jadi hanya 7 bulan lebih,ada rasa kecemasan yang menghinggapi pikiranku saat itu,dengan berat sekitar 1,9 kilo lebih Assagi harus dibantu dokter untuk mengeluarkan cairan dalam tenggorokannya.

Setelah Assagi melewati ujian pertama dalam kehidupannya didunia,Assagi kecil harus dirawat insentif di ruang NICU,setelah mendampingi bunda tersayang untuk perawatan setelah melahirkan,aku bergegas menuju keruang NICU untuk melihat bagaimana kondisi sagi,saat pertama tiba di ruang NICU aku melihat sosok Assagi yang terbaring lemah disudut kamar lengkap dengan selang-selang infus kecil yang masuk didalam mulutnya,hatiku tergetar cemas melihat keadaannya.

Lamunanku terhenti ketika dokter jaga yang ada memanggilku menuju sebuah layar monitor,dimana didalam layar tersebut tampak jelas bagian berwarna putih yang membentuk barisan tulang tubuh yang berjejer rapih,akan tetapi ada keanehan yang tampak pada saat itu bagaimana organ tubuhnya seperti paru-paru dan jantung tidak terlihat dengan jelas,menurut keterangan dokter hal tersebut disebabkan karena organ tubuh yang belum terbentuk sempurna sehingga organ tersebut belum terisi oksigen dengan maksimal.

Juma’at 13 juli 2018 menjadi hari bersejarah bagi keluarga kami,pada hari itulah Assagi lahir kedunia pukul 2.45 dini hari.Selesai mendapatkan informasi dari dokter jaga aku bergegas menuju mushola rumah sakit selain untuk melaksanakan sholat subuh,ada keinginan lain dalam pikiranku saat itu,aku ingin menyisipkan doa keselamatan untuk anakku,karena aku tahu disaat sholatlah aku bisa merasa lebih dekat dengan-Nya,diantara bacaan sholat yang aku bacakan selalu aku selipkan doa dan harapanku untuk Assagi.

Hari berikutnya aku selalu mendampingi Assagi hampir disetiap saat,karena bunda sudah bisa pulang kerumah pada hari minggu,jadi akulah yang bertugas menjaga dan memantau perkembangan Assagi selama dirumah sakit.Saat itu perkembangan assagi belum terlalu signifikan,dari pemberitahuan dokter yang menangani sagi diperlukan operasi kecil untuk memasukan entah alat apa untuk membantu perkembangan paru-paru Sagi karena sebelumnya telah dilakukan pemasangan alat tersebut melalui tali pusar sagi dan hasilnya alat tersebut melenceng dari target yang diharapkan sehingga diperlukan bantuan dokter bedah anak untuk membuat goresan di lengan sagi agar bisa memasukan alat tersebut.

Ya Allah …semoga hamba bisa menerima cobaan mu ini dengan hati yang ikhlas,saat itu yang aku pikirkan adalah bagaimana agar Sagi bisa segera pulang kerumah berkumpul dengan kakak Syila dan Sheena yang selalu bertanya kapan dede sagi akan pulang.Jadi dengan berat hati aku ijinkan untuk melakukan operasi tersebut walaupun sesungguhnya aku tidak sanggup membayangkan bagaimana tubuh yang kecil ini menerima begitu banyak kesakitan.

Alhamdulillah operasi tersebut berjalan lancar,selesai operasi tersebut ada kemajuan yang sangat signifikan yang dialami sagi terlihat dari berkurangnya angka-angka yang ada pada layar monitor Sagi dan dari laporan dokter bahwa saat ini sagi akan diberikan asi ekslusif dari ibunya,bergegas aku pulang kerumah setelah sebelumnya membeli peralatan breast Pump atau pompa asi beserta kemasan untuk menyimpan asi.

Hatiku sangat berbunga-bunga saat itu bagaimana tidak ,aku yang mendampingi Sagi selama dirumah sakit membayangkan bagaimana ia akan merasakan asi pertama dari ibunya yang juga merupakan sebuah kemajuan serta harapan besar untuk kesembuhannya.

Selasa 17 juli 2018 pukul 8.30 aku segera bergegas kerumah sakit untuk melihat kondisi sagi terbaru,dari laporan dokter bahwa kondisi sagi pada saat ini masih stabil selesai sholat dzuhur aku menerima panggilan telepon dari dokter yang bertugas di ruang NICU,setengah berlari aku menuju lantai dua dimana ruang NICU berada,saat itu dokter menjelaskan ada penurunan kondisi tubuh sagi yang sangat mengkhawatirkan.

Dari analisa yang dilakukan oleh tim dokter ada gangguan infeksi yang menghambat proses kerja paru-paru sagi dengan kondisi yang ada pada saat itu dokter menyarankan untuk menggunakan salah satu obat untuk mencegah infeksi berkembang dan efek dari obat ini akan bekerja 2X24 jam jadi dapat dikatakan saat ini kondisi sagi sangat kritis.Saat itu aku katakan kepada dokter tersebut untuk lakukan apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Sagi.

Tak terhitung doa dan harap yang ku panjatkan kepada Allah SWT,agar memberikan keselamatan dan kesembuhan untuk Sagi,hampir setengah jam setelah selesai sholat maghrib aku yang sedang berharap cemas diruang tunggu mendapat panggilan dari security untuk segera menuju ke ruang NICU,saat itu aku melihat pemandangan yang sangat mengharukan,bagaimana dokter sedang melakukan pertolongan jantung terhadap sagi ku,dokter tersebut menekan berulang kali dada mungil sagi,tanpa terasa air mataku mengalir sambil terus berdoa aku segera membuka handphone ku untuk membuka aplikasi Al-Quran Portabel yang memang biasa aku baca saat aku di rumah sakit,ku buka surat Yasiin akan tetapi yang keluar dari mulutku hanya beberapa surat pertamanya aku tak sanggup membaca lagi karena mataku sudah tertutupi oleh air mata.yang tak henti-hentinya mengalir serta getaran tubuh yang sangat berat.

Hampir 10 menit tindakan tersebut dilakukan akhirnya dokter menghampiriku dan mengatakan dede sagi telah pergi,berulang kali ku seka air mataku akan tetapi air mataku terus mengalir sendiri,kucoba kuat kan hati untuk menerima takdir dari-Nya sambil berulang kali menarik nafas yang dalam dan melafazkan istighfar,kuhubungi bunda tercinta untuk mengabarkan kabar duka ini,dapat kurasakan kesedihan yang sangat mendalam serta isak tangis yang ku dengar dari suaranya dan pada akhirnya kita manusia hanya bisa berkehendak akan tetapi Allah lah yang mempunyai segala keputusan dan kuasa.

Terima kasih Muhammad Assagi Pranez walaupun hanya lima hari Allah mengizinkan engkau hadir di keluarga ini,engkau telah banyak memberi pelajaran bagi kami ayah dan bunda mu ini,bagaimana engkau mengajarkan kami untuk menerima semua kehendaknya dengan ikhlas,bagaimana perjuanganmu selama lima hari ini membuat kami sadar untuk lebih kuat dalam menjalani hidup ini semoga engkau menjadi syafaat kami di hari akhir nanti dan pasti Allah akan menjagamu hingga saat kita bertemu nanti….

Alhamdulillah kami telah mengikhlaskan mu karena Allah SWT …karena ini yang terbaik bagimu dan kami…..Miss U dede Sagi

 

Tangerang – Selatan 18 juli 2018

01.05 WIB

 

 

 

One thought on “Elegi Untuk Muhammad Assagi Pranez

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *